Software Freedom Day 2026 di Universitas Narotama: Dari Literasi Open Source Menuju Kemandirian Digital
25 September 2026, 10:12:24 Dilihat: 27x
Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Narotama memperingati Software Freedom Day (SFD) 2026 melalui kegiatan sharing session bertema pemanfaatan perangkat teknologi sederhana sebagai sarana pembelajaran dan eksperimen teknologi informasi. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 19 September 2026, tersebut menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa untuk mengenal lebih jauh konsep software freedom sekaligus mengeksplorasi pemanfaatan perangkat Set Top Box (STB) milik penyedia layanan internet (Internet Service Provider/ISP) menjadi home server.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Fakultas Ilmu Komputer Universitas Narotama dan Komunitas Linux Arek Suroboyo (KLAS). Sharing session diikuti oleh mahasiswa Universitas Narotama, mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi lain, serta peserta dari kalangan SMK.
Kaprodi Teknik Informatika Universitas Narotama sekaligus dosen Fasilkom, Noor Al Azam, S.Kom., M.MT, menjelaskan bahwa Software Freedom Day merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai keberadaan dan prinsip-prinsip software freedom atau kebebasan perangkat lunak.
Menurutnya, Software Freedom Day telah diselenggarakan sejak 2004 sebagai gerakan untuk memperkenalkan konsep kebebasan perangkat lunak kepada masyarakat dunia.
“Software Freedom Day digunakan untuk awareness kepada masyarakat seluruh dunia bahwa di dunia ini ada yang namanya software freedom,” jelas Noor Al Azam.
Ia menjelaskan bahwa prinsip software freedom berlandaskan pada empat bentuk kebebasan. Pertama, kebebasan untuk menggunakan perangkat lunak untuk berbagai tujuan tanpa pembatasan penggunaan. Kedua, kebebasan untuk mempelajari bagaimana perangkat lunak bekerja, yang berkaitan erat dengan keterbukaan kode sumber (open source). Ketiga, kebebasan untuk mengembangkan atau memodifikasi perangkat lunak sesuai kebutuhan. Keempat, kebebasan untuk memberikan atau mendistribusikan perangkat lunak kepada pihak lain.
“Empat prinsip kebebasan ini yang menyertai sebuah freedom software,” ujarnya.
Noor Al Azam menjelaskan bahwa bentuk kegiatan Software Freedom Day mengalami perkembangan seiring perubahan ekosistem teknologi dan meningkatnya akses masyarakat terhadap internet.
Pada masa awal penyelenggaraannya, kegiatan SFD di lingkungan komunitas Linux antara lain dilakukan melalui pembagian CD berisi perangkat lunak. Komunitas Linux Arek Suroboyo sendiri telah menyelenggarakan kegiatan tersebut sejak 2004, termasuk melalui distribusi CD yang diperoleh dari Canonical, Inggris.
Namun, perkembangan internet membuat model distribusi tersebut tidak lagi menjadi fokus utama. Kegiatan kemudian berkembang menjadi seminar, sharing session, dan workshop yang lebih menekankan pada peningkatan pengetahuan serta keterampilan peserta.
“Sekarang ini internet sudah banyak dan aksesnya sudah lebih mudah. Pembagian CD akhirnya menjadi tidak terlalu relevan. Akibatnya, kita melakukannya sekarang lebih ke seminar, sharing session, dan workshop,” ungkapnya.
Dalam kegiatan SFD 2026 di Universitas Narotama, salah satu materi yang menjadi perhatian peserta adalah praktik mengubah STB milik ISP menjadi home server.
Materi tersebut diisi oleh mahasiswa Program Studi Sistem Komputer Universitas Narotama. Kegiatan tidak hanya diikuti mahasiswa Fasilkom, tetapi juga mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Pembangunan Nasional (UPN), serta peserta dari kalangan SMK.
Salah satu gagasan utama dalam kegiatan tersebut adalah menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai server tidak selalu membutuhkan perangkat dengan biaya tinggi.
Menurut Noor Al Azam, STB yang selama ini dikenal masyarakat sebagai perangkat untuk mengakses layanan multimedia dari ISP pada dasarnya merupakan komputer berukuran kecil yang memiliki komponen pemrosesan, memori, penyimpanan, serta sejumlah port untuk pengembangan perangkat.
“Orang itu menganggap kalau belajar tentang server itu perlu biaya mahal. Padahal STB ISP sekarang di marketplace mungkin hanya puluhan ribu, tidak sampai seratus ribu. Artinya tidak mahal. Dari perangkat yang murah itu, kita bisa membuat sebuah home server,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, STB dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk memahami konsep server, Linux, pemrograman, hingga pengembangan sistem berbasis jaringan.
Pemanfaatannya juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan. STB yang telah dipasang sistem operasi dan perangkat lunak yang sesuai dapat dikembangkan menjadi web server, mail server, maupun media penyimpanan pribadi.
Bagi Noor Al Azam, pemanfaatan STB sebagai home server bukan sekadar kegiatan teknis, tetapi juga memiliki nilai pendidikan yang lebih luas. Mahasiswa didorong untuk memahami bahwa perangkat teknologi yang tersedia di sekitar mereka dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan eksperimen.
Ia menilai pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu bagian dari upaya membangun kemandirian digital.
“Ujung-ujungnya itu sebenarnya kemandirian digital Indonesia. Jangan sampai kita sedikit-sedikit bergantung pada sesuatu dari luar negeri. Padahal kita bisa, perangkatnya ada, software-nya terbuka, dan bisa kita ubah untuk kebutuhan kita sendiri,” tuturnya.
Menurutnya, tantangan utama bukan semata-mata ketersediaan perangkat atau perangkat lunak, melainkan pengetahuan dan kesempatan untuk melakukan eksplorasi.
Karena itu, lingkungan pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menyediakan ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk belajar, mencoba, serta mengembangkan teknologi secara langsung.
Kegiatan sharing session yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga sekitar 12.00 WIB mendapat respons positif dari peserta. Salah satu hal yang menarik perhatian mahasiswa adalah pemahaman baru bahwa STB yang selama ini umum ditemukan di rumah ternyata merupakan sebuah komputer dengan kemampuan yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
“Mahasiswa baru tahu kalau sebenarnya set top box yang selama ini dilihat di rumah-rumah mereka itu sebenarnya komputer. Hanya komputer yang kecil,” ujar Noor Al Azam.
Melihat antusiasme tersebut, Fasilkom Universitas Narotama bersama Komunitas Linux Arek Suroboyo (KLAS) berencana mengembangkan kegiatan tersebut menjadi workshop praktik yang dapat diikuti secara lebih luas.
Workshop direncanakan menggunakan laboratorium komputer Universitas Narotama sehingga peserta dapat melakukan praktik langsung dengan perangkat STB yang disediakan. Peserta nantinya dapat mengeksplorasi berbagai kemungkinan pemanfaatan STB, mulai dari instalasi Linux hingga membangun layanan server sesuai kebutuhan.
“Kalau memungkinkan, kita lakukan workshop di laboratorium Universitas Narotama. Kita sediakan set top box-nya, kemudian bisa diutak-atik di sana, mau dijadikan web server, mail server, atau server lainnya,” jelasnya.
Ke depan, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat dilaksanakan secara periodik dan terbuka untuk masyarakat umum. Materinya tidak harus selalu sama karena perkembangan teknologi informasi berlangsung secara dinamis.
“Kalau IT itu selalu ada sesuatu yang baru. Dasarnya memang sama, misalnya Linux. Tetapi penerapannya bisa berbeda,” ungkapnya.
Selain server, STB juga berpotensi dikembangkan sebagai personal cloud untuk menyimpan foto, kontak, maupun data pribadi sehingga pengguna memiliki alternatif penyimpanan yang dikelola secara mandiri.
Noor Al Azam juga mengajak masyarakat, khususnya pelajar SMA/SMK maupun masyarakat yang memiliki kebutuhan atau gagasan terkait teknologi, untuk memanfaatkan lingkungan akademik sebagai ruang kolaborasi dan eksperimen.
“Kalau untuk masyarakat luas, SMK, SMA atau siapa pun yang memerlukan riset kecil-kecilan, monggo kontak teman-teman Narotama. Kita carikan jalan keluarnya,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi berbasis open source membuka peluang bagi masyarakat untuk mencari solusi alternatif atas berbagai persoalan tanpa selalu bergantung pada produk teknologi dari luar.
“Utamanya IT, karena IT ini sudah sedemikian bebas sehingga sebenarnya bisa kita kembangkan sendiri. Hanya kesempatan kita untuk membuktikan itu yang mungkin masih kurang,” pungkasnya.
Melalui peringatan Software Freedom Day 2026, Fasilkom Universitas Narotama tidak hanya memperkenalkan konsep kebebasan perangkat lunak, tetapi juga mendorong mahasiswa dan masyarakat untuk melihat teknologi secara lebih kritis, kreatif, dan mandiri. Pemanfaatan STB sebagai home server menjadi contoh sederhana bahwa perangkat yang relatif terjangkau dapat menjadi media pembelajaran sekaligus pintu masuk untuk memahami teknologi server, Linux, jaringan, dan open source secara lebih mendalam.